Akhir-akhir ini status di facebook saya selalu ada huruf 'H'nya. H-6, H-5, hingga H-1. Hari ini, adalah hari H. Bukaaan, saya bukan mau mudik. Saya mengitung hari untuk kembali bertemu dengan teman-teman seperjuangan saya. Teman-teman yang meski jarang bertemu, meski sudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air, tapi tetap akrab, karena selalu menjaga tali silaturahmi lewat... *jeng-jeng-jeng* Facebook (ya iyalaaah, hare gene gak ponya pesbok??? *bibir dimonyongin*). Hehe.
Malam ini kami akan bertemu lagi setelah pertemuan kami setahun yang lalu. Dan sama seperti tahun kemarin, kami berkumpul untuk liburan bersama di Lombok dan Bali, mumpung masih pada bujang gitu loh. Sayangnya dua orang teman kami nggak ikut tahun ini. Sedih sih, tapi mau gimana lagi. *sigh*
Oya, untuk tahun ini, ketambahan satu daerah lagi yang akan dikunjungi, yaitu Jogjakarta. Berhubung saya belum pernah ke pulau Jawa (oke, pernah ke Jakarta sekali), saya luar biasa bersemangat! Walau sebenarnya mau kemanapun, rasa gembira saya nggak akan berkurang. Mengapa? Kerena saya bersama mereka, orang-orang sarap lahir batin, yang bisa diajak gila-gilaan bareng, yang bercandanya suka keterlaluan, tempat saya bisa ngambek sesuka hati, karena saya tahu, mereka nggak akan peduli saya ngambek. T__T
Seperti yang saya bilang sebelumnya, kami sudah tersebar-sebar di berbagai daerah, mulai dari Jayapura, Kotamobagu, Ternate, Makassar, hingga Luwuk (wew, dimana tuh ya?), sehingga harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berkumpul bersama. Bahkan sampai memohon-mohon kepada atasan agar dikasih cuti (lebay). Rencananya kita akan menginap di rumah teman kami di daerah Praya, Lombok Tengah. Maybe tonight’s gonna be a girls—ups, salah—boys night! Hehe. Paling juga ngobrol-ngobrol, becanda-becanda, ato nggak ya tonjok-tonjokan. :D
Nggak sabar rasanya menanti kedatangan mereka. Kebetulan saya memang sedang tinggal di Mataram, jadilah saya yang menunggu kedatangan mereka. Well, jika menunggu, menurut banyak orang, adalah kegiatan yang membosankan, maka menunggu mereka justru sebaliknya. Like I said on facebook, “I’m sooo excited!”
@vaan, April, 2011
(Hadeeh, gak sabar! Semoga segalanya berjalan lancar)
Jumat, 15 April 2011
Sabtu, 09 April 2011
Kesepian itu bernama LOST
Kesepian, adalah saat kau menunggu, di suatu tempat, sendirian. Kesepian, adalah saat kau melihat teman-temanmu menikmati malam minggu dengan pacar mereka masing-masing, sementara kau sendiri di kamar, nggak ada yang mengajakmu keluar, dan nggak ada yang bisa kau ajak keluar (uhukcurcoluhuk). Kesepian, adalah saat kau terkena flu dan teman-temanmu nggak. Atau saat kau berada sendiri di rumah, mati lampu.
Buat saya, kesepian adalah ketika saya sedang menggilai serial tv berjudul LOST, dan nggak ada seorangpun yang bisa saya ajak diskusi… *krikk.. krikk..*
Nggak penting banget ya? Hehe.
Saya memang sedang tergila-gila sama LOST. Duluuu banget, waktu saya SMA, pernah nonton itu di Indosiar, tapi cuma season 1 saja, itu pun nggak komplit karena entah saya yang lupa atau Indosiar memang senang mengubah-ubah jam tayangnya. Yang jelas, saya sangat menyukai ceritanya. Unik. In case you don’t know, Lost berkisah tentang sekumpulan orang yang selamat dari kecelakaan pesawat dan terjebak di sebuat pulau. Fakta bahwa ternyata pulau ini terisolir, membuat para survivor nggak bisa berharap banyak pada tim penyelamat. Mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, karena pulau itu memiliki misterinya sendiri. Banyak hal yang nggak bisa dijelaskan dengan akal sehat terjadi di pulau ini, contohnya adalah ketika beberapa tokohnya nyaris di serang oleh beruang kutub. Iya, polar bear, yang seharusnya nggak ada di pulau tropis ini (tau sendiri dong polar bear harusnya ada dimana?). Dan masih banyak misteri lainnya. Belum lagi konflik yang muncul di antara para survivor.
Uniknya dimana? Tentu saja di penyajian cerita (storytelling). Karena selain misteri dan konflik yang dimunculkan, penonton juga diajak untuk lebih mengenal masing-masing survivor melalui adegan-adegan flashback. Tentang masa lalu mereka, rahasia yang mereka simpan, konflik batin mereka, hingga peristiwa yang berujung pada keputusan mereka untuk menumpangi Oceanic Flight 815, penerbangan yang membuat mereka berakhir di pulau itu. Saya cukup menyukai adegan-adegan flashback, meski belakangan suka menggerutu karena merasa terganggu, terutama karena rasa penasaran terhadap misteri pulau itu sendiri.
Jalan cerita yang menarik serta karakter-karakter yang lovable (well, nggak semuanya sih), membuat saya terpikat dengan serial ini, membuat saya ingin mendiskusikannya, dengan siapa saja! MASALAHNYA, serial ini bisa dibilang serial lama (tayang perdana di Amrik tahun 2004, di Indosiar tahun 2005), bahkan sudah tamat di season ke-6, tahun lalu. Bisa dibilang nggak ada lagi yang membahas serial ini. Teman-teman yang saya coba ajak diskusi, beberapa bilangnya nggak pernah nonton. Beberapa malah ada yang nggak suka (how come? Bagus begini masa nggak suka?). Forum-forum internet pun sebagian besar sudah menutup trit-trit (thread maksudnya) yang membahas Lost. Saat mencoba membaca salah satu trit Lost, yang ada saya malah dihajar spoiler habis-habisan. DOH!
Begitulah… Saat ini, meski sudah punya serial Lost komplit 6 season hasil donlot dari internet, saya harus puas menikmatinya sendirian, tanpa seseorang yang bisa saya ajak sharing. Tertawa sendiri saat menyaksikan tingkah konyol para karakter, menangis saat adegan sedih, syok saat tau masa lalu kelam salah satu karakter, rasa penasaran pada misteri di pulau itu sendiri. Semua saya nikmati sendiri.
Tapi saya puas. Setidaknya, saya bisa menonton serial favorit yang dulu nggak sempat saya tonton.
Eaaah... mellow gara-gara serial tv.
-11-
Buat saya, kesepian adalah ketika saya sedang menggilai serial tv berjudul LOST, dan nggak ada seorangpun yang bisa saya ajak diskusi… *krikk.. krikk..*
Nggak penting banget ya? Hehe.
Saya memang sedang tergila-gila sama LOST. Duluuu banget, waktu saya SMA, pernah nonton itu di Indosiar, tapi cuma season 1 saja, itu pun nggak komplit karena entah saya yang lupa atau Indosiar memang senang mengubah-ubah jam tayangnya. Yang jelas, saya sangat menyukai ceritanya. Unik. In case you don’t know, Lost berkisah tentang sekumpulan orang yang selamat dari kecelakaan pesawat dan terjebak di sebuat pulau. Fakta bahwa ternyata pulau ini terisolir, membuat para survivor nggak bisa berharap banyak pada tim penyelamat. Mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, karena pulau itu memiliki misterinya sendiri. Banyak hal yang nggak bisa dijelaskan dengan akal sehat terjadi di pulau ini, contohnya adalah ketika beberapa tokohnya nyaris di serang oleh beruang kutub. Iya, polar bear, yang seharusnya nggak ada di pulau tropis ini (tau sendiri dong polar bear harusnya ada dimana?). Dan masih banyak misteri lainnya. Belum lagi konflik yang muncul di antara para survivor.
Uniknya dimana? Tentu saja di penyajian cerita (storytelling). Karena selain misteri dan konflik yang dimunculkan, penonton juga diajak untuk lebih mengenal masing-masing survivor melalui adegan-adegan flashback. Tentang masa lalu mereka, rahasia yang mereka simpan, konflik batin mereka, hingga peristiwa yang berujung pada keputusan mereka untuk menumpangi Oceanic Flight 815, penerbangan yang membuat mereka berakhir di pulau itu. Saya cukup menyukai adegan-adegan flashback, meski belakangan suka menggerutu karena merasa terganggu, terutama karena rasa penasaran terhadap misteri pulau itu sendiri.
Jalan cerita yang menarik serta karakter-karakter yang lovable (well, nggak semuanya sih), membuat saya terpikat dengan serial ini, membuat saya ingin mendiskusikannya, dengan siapa saja! MASALAHNYA, serial ini bisa dibilang serial lama (tayang perdana di Amrik tahun 2004, di Indosiar tahun 2005), bahkan sudah tamat di season ke-6, tahun lalu. Bisa dibilang nggak ada lagi yang membahas serial ini. Teman-teman yang saya coba ajak diskusi, beberapa bilangnya nggak pernah nonton. Beberapa malah ada yang nggak suka (how come? Bagus begini masa nggak suka?). Forum-forum internet pun sebagian besar sudah menutup trit-trit (thread maksudnya) yang membahas Lost. Saat mencoba membaca salah satu trit Lost, yang ada saya malah dihajar spoiler habis-habisan. DOH!
Begitulah… Saat ini, meski sudah punya serial Lost komplit 6 season hasil donlot dari internet, saya harus puas menikmatinya sendirian, tanpa seseorang yang bisa saya ajak sharing. Tertawa sendiri saat menyaksikan tingkah konyol para karakter, menangis saat adegan sedih, syok saat tau masa lalu kelam salah satu karakter, rasa penasaran pada misteri di pulau itu sendiri. Semua saya nikmati sendiri.
Tapi saya puas. Setidaknya, saya bisa menonton serial favorit yang dulu nggak sempat saya tonton.
Eaaah... mellow gara-gara serial tv.
-11-
Kamis, 31 Maret 2011
D'Janji or D'Sumpah. Whatever.
Hai.
Tak terasa bulan Maret sudah mau berakhir. Dan dengan bejatnya blog ini saya telantarkan. Sibuk. (Lame excuse ya. Hahaha)
Saya cerita-cerita tentang pengambilan janji pns yang barusan saya ikuti aja ya. Tanggal 24 kemarin acaranya. Umumnya disebut sumpah pegawai negeri sipil (pns). Tapi, untuk pegawai yang beragama Kristen (iya, saya) kata sumpah diganti dengan janji, karena menurut ajaran Kristen, umatnya nggak boleh bersumpah. Er… saya nggak tahu persis bagian mana di Alkitab yang menyebut itu. Tapi bukan itu persoalannya, at least for me yah. Toh saya berjanji demi Tuhan juga, dan itu mengandung tanggung jawab yang besar (haish, bahasa gue).
Saya akui, ada sedikit perubahan dalam diri saya (sedikit doang? *plak!*), setelah pengambilan janji pns kemarin itu. Saya rasa beban di pundak saya sebagai pns makin bertambah. Gimana nggak? Secara ya, kita diambil janji berdasarkan agama dan keyakinan kita, didampingi oleh pemuka agama masing-masing (kemarin itu ada yang beragama Islam, Kristen, dan Hindu. Otomatis ada tiga pemuka agama), disaksikan oleh para pejabat, dan yang lebih penting, disaksikan Yang Maka Kuasa *gemetaran*. Momen saat diambil sumpah/janji itu terasa sangat... apa ya? Berkesanlah. Selama prosesi berlangsung, benak saja bertanya-tanya, “Hellow Gayus? Apa kabar para koruptor?” Apa mereka nggak mengganggap pengambilan sumpah (jabatan) yang mereka jalani itu sebagai sesuatu yang penting? Sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan ‘di atas sana’ nanti? (Halah!)
Saya bukannya sok suci atau gimana. Saya ini orang berdosa juga, you know lah(dan masih suka bikin dosa, hehe). Masalahnya, kalau yang saya rugikan adalah diri saya sendiri, suka-suka saya kan? Beda halnya jika dengan jabatan yang saya duduki, saya memanfaatkannya untuk keuntungan saya dan merugikan orang lain, bahkan LEBIH BANYAK orang.
Ah, akhirnya saya justru meracau. Ini gara-gara satu hal. Demotivasi kerja. Yap, saya tengah mengalaminya, tepat di saat saya menerima surat tugas yang mengharuskan para pegawai yang belum diambil sumpah untuk segera mengambil bagian dalam kegiatan pegambilan sumpah di kantor vertikal kami itu. Thank God, hingga saat ini, saya masih bisa menjaga semangat kerja saya.
Kembali ke acara pengambilan sumpah. Saat itu saya tegang sekali. Jantung saya berdetak tiga kali lebih cepat (atau seperti itulah, kau tahu, saat kau nervous). Saking nervous-nya, saya agak kesulitan mengikuti kata-kata sumpah/janji yang dibacakan oleh Ibu Pimpinan. Ugh, saya merasa mata-mata sadis para saksi menghujam dada saya. Bener-bener horor.
Tapi setelah prosesi berakhir, segalanya kembali seperti biasa. Saya kembali rileks. Dan ngomong-ngomong, harusnya setelah itu ada acara makan-makan (yuhuu!). Tapi sayang (T.T), saya harus segera bertugas. Maklum, penjaga loket. Eh, tapi nggak apa-apa ding. Toh saya lagi diet ini. Biarlah, anggap saja saya terselamatkan dari godaan makan-sampe-lupa-daratan.
Iya, saya lagi diet. Sudah turun sekilo. Dan target saya masih 5 kilo lagi. Kalo bisa sih lebih.
-11-
Tak terasa bulan Maret sudah mau berakhir. Dan dengan bejatnya blog ini saya telantarkan. Sibuk. (Lame excuse ya. Hahaha)
Saya cerita-cerita tentang pengambilan janji pns yang barusan saya ikuti aja ya. Tanggal 24 kemarin acaranya. Umumnya disebut sumpah pegawai negeri sipil (pns). Tapi, untuk pegawai yang beragama Kristen (iya, saya) kata sumpah diganti dengan janji, karena menurut ajaran Kristen, umatnya nggak boleh bersumpah. Er… saya nggak tahu persis bagian mana di Alkitab yang menyebut itu. Tapi bukan itu persoalannya, at least for me yah. Toh saya berjanji demi Tuhan juga, dan itu mengandung tanggung jawab yang besar (haish, bahasa gue).
Saya akui, ada sedikit perubahan dalam diri saya (sedikit doang? *plak!*), setelah pengambilan janji pns kemarin itu. Saya rasa beban di pundak saya sebagai pns makin bertambah. Gimana nggak? Secara ya, kita diambil janji berdasarkan agama dan keyakinan kita, didampingi oleh pemuka agama masing-masing (kemarin itu ada yang beragama Islam, Kristen, dan Hindu. Otomatis ada tiga pemuka agama), disaksikan oleh para pejabat, dan yang lebih penting, disaksikan Yang Maka Kuasa *gemetaran*. Momen saat diambil sumpah/janji itu terasa sangat... apa ya? Berkesanlah. Selama prosesi berlangsung, benak saja bertanya-tanya, “Hellow Gayus? Apa kabar para koruptor?” Apa mereka nggak mengganggap pengambilan sumpah (jabatan) yang mereka jalani itu sebagai sesuatu yang penting? Sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan ‘di atas sana’ nanti? (Halah!)
Saya bukannya sok suci atau gimana. Saya ini orang berdosa juga, you know lah(dan masih suka bikin dosa, hehe). Masalahnya, kalau yang saya rugikan adalah diri saya sendiri, suka-suka saya kan? Beda halnya jika dengan jabatan yang saya duduki, saya memanfaatkannya untuk keuntungan saya dan merugikan orang lain, bahkan LEBIH BANYAK orang.
Ah, akhirnya saya justru meracau. Ini gara-gara satu hal. Demotivasi kerja. Yap, saya tengah mengalaminya, tepat di saat saya menerima surat tugas yang mengharuskan para pegawai yang belum diambil sumpah untuk segera mengambil bagian dalam kegiatan pegambilan sumpah di kantor vertikal kami itu. Thank God, hingga saat ini, saya masih bisa menjaga semangat kerja saya.
Kembali ke acara pengambilan sumpah. Saat itu saya tegang sekali. Jantung saya berdetak tiga kali lebih cepat (atau seperti itulah, kau tahu, saat kau nervous). Saking nervous-nya, saya agak kesulitan mengikuti kata-kata sumpah/janji yang dibacakan oleh Ibu Pimpinan. Ugh, saya merasa mata-mata sadis para saksi menghujam dada saya. Bener-bener horor.
Tapi setelah prosesi berakhir, segalanya kembali seperti biasa. Saya kembali rileks. Dan ngomong-ngomong, harusnya setelah itu ada acara makan-makan (yuhuu!). Tapi sayang (T.T), saya harus segera bertugas. Maklum, penjaga loket. Eh, tapi nggak apa-apa ding. Toh saya lagi diet ini. Biarlah, anggap saja saya terselamatkan dari godaan makan-sampe-lupa-daratan.
Iya, saya lagi diet. Sudah turun sekilo. Dan target saya masih 5 kilo lagi. Kalo bisa sih lebih.
-11-
Rabu, 23 Februari 2011
Dulu
Dulu, aku selalu menantimu. Berharap kau datang bersama senyum jenakamu. Atau raut sinismu.
Dulu, aku selalu berdoa pada Tuhan. Meminta kekuatan agar aku berani menyapamu. Bicara denganmu. Atau sekadar menatap matamu.
Dulu, aku selalu mengagumi setiap tarikan wajahmu. Raut ketusmu saat bosan menunggu. Atau ketika kau salah tingkah. Atau saat kau tak peduli waktu aku menyapa, seolah aku tak ada.
Dulu, ketika melihatmu, aku selalu kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Tiba-tiba suaraku menjadi lebih keras. Tiba-tiba bicaraku melantur. Tiba-tiba pena di tanganku jatuh. Tiba-tiba aku menjepit jariku dengan stapler. Tiba-tiba aku tertawa. Tiba-tiba aku menabrak meja. Tiba-tiba aku lupa caranya bernapas.
Dulu, jantungku berpacu lebih cepat saat kau online. Dan aku harus mengumpulkan tenaga, hanya untuk bilang ‘hai’. Setelah aku itu rasanya mau pingsan.
Itu dulu.
Dan… sekarang pun masih. :)
-11-
Dulu, aku selalu berdoa pada Tuhan. Meminta kekuatan agar aku berani menyapamu. Bicara denganmu. Atau sekadar menatap matamu.
Dulu, aku selalu mengagumi setiap tarikan wajahmu. Raut ketusmu saat bosan menunggu. Atau ketika kau salah tingkah. Atau saat kau tak peduli waktu aku menyapa, seolah aku tak ada.
Dulu, ketika melihatmu, aku selalu kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Tiba-tiba suaraku menjadi lebih keras. Tiba-tiba bicaraku melantur. Tiba-tiba pena di tanganku jatuh. Tiba-tiba aku menjepit jariku dengan stapler. Tiba-tiba aku tertawa. Tiba-tiba aku menabrak meja. Tiba-tiba aku lupa caranya bernapas.
Dulu, jantungku berpacu lebih cepat saat kau online. Dan aku harus mengumpulkan tenaga, hanya untuk bilang ‘hai’. Setelah aku itu rasanya mau pingsan.
Itu dulu.
Dan… sekarang pun masih. :)
-11-
Minggu, 20 Februari 2011
[Review Buku] The Lost Symbol
Judul buku: The Lost Symbol
Pengarang: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Bentang Pustaka, 2010
Tebal: 712 hlm
Oke, amat-sangat-terlambat-sekali saya membaca novel Dan Brown ini (melirik tumpukan novel lainnya yang juga telat saya baca). Tapi marilah kita nggak perlu mempermasalahkan itu. Nggak apa-apa kan telat baca, daripada nggak baca sama sekali. Setuju? SETUJU! *maksa*
The Lost Symbol adalah novel ketiga Dan Brown yang tokoh utamanya seorang profesor Harvard bernama Robert Langdon, setelah sebelumnya beraksi dalam The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Kali ini, sang ahli simbolog lajang tersebut membawa kita mengikuti petualangan serunya dalam mengungkap rahasia Gedung Capitol, di Washington DC, Amerika Serikat, yang penuh dengan misteri mengagumkan.
Tentu saja tugas Langdon tidaklah mudah, karena ia berhadapan dengan penjahat sadis yang tidak segan-segan membunuh demi mendapatkan keinginananya. Keadaan bertambah sulit dengan adanya campur tangan CIA, yang menganggap Langdon sebagai ancaman keamanan nasional. Menyusuri lorong-lorong bahwa tanah Capitol dan tempat-tempat menakjubkan lainnya sembari menghindari kejaran CIA, Langdon berusaha memecahkan kode rahasia Mason. Sebelum tengah malam, Langdon sudah harus berhasil, karena jika dia gagal, Peter Solomon akan dibunuh, dan sebuah rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat, bahkan dunia, akan tersebar.
Dalam novel thriller-nya ini, Dan Brown kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita. Beliau kembali memadukan fakta sejarah dan imajinasi fiksi, sehingga menghadirkan novel yang luar biasa. Topik yang diangkat adalah perkumpulan kaum rahasia Mason, yang kental dengan kontroversinya, agenda-agenda rahasianya, serta simbol-simbolnya yang—jika kita jeli—ternyata ada dimana-mana. Bahkan George Washington, Benjamin Franklin, juga berbagai ilmuwan terkenal di masanya, diduga adalah anggota Mason. Maka semakin menariklah novel ini.
Terlepas dari kontroversi dalam novel ini (meski mungkin nggak seheboh The Da Vinci Code), novel Dan Brown selalu memikat hati para membacanya. Dan meski nggak semencekam Angels and Demons, The Lost Symbol tetap merupakan novel penuh misteri dan ketegangan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Penggemar cerita-cerita thriller wajib membaca The Lost Symbol. Saya menyesal nggak segera membaca novel ini (saya membelinya bulan Juli 2010 lalu, dan baru membacanya Februari 2011. Great!). Nikmati saja bacaan ini sebagai fiksi, dan kamu akan baik-baik saja.
-11-
Gambar diambil di sini.
Pengarang: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Bentang Pustaka, 2010
Tebal: 712 hlm
Langganan:
Postingan (Atom)