Kamis, 16 Juni 2011

Dua Bulan Yang Lalu (bagian 2): Lombok

Daaan… liburan di Lombok pun dimulai! Semangat empat-lima nih ceritanya. Rencana-hampir-setahun kami akhirnya terlaksana juga. Cuaca yang tadinya agak menghawatirkan, ternyata tidak begitu parah. Baiklah, tidak usah berpanjang lebar, saya akan langsung menceritakan kisah kami selama di Lombok.

Sendang Gile

Inilah awal perjalanan panjang dan melelahkan dari rangkaian tour kami. Serius. Lokasi wisata pertama yang kami kunjungi ternyata cukup jauh. Air Terjun Sendang Gile. Setelah bermobil selama kurang lebih tiga jam dari Praya (dengan jalan berliku dan berlubang), kami harus menerima fakta bahwa untuk mencapai air terjun, kami harus menempuhnya lagi dengan berjalan kaki dari pintu masuk lokasi wisata. Jalan kaki? Hayuk! pikir saya enteng. Buset! Saya tidak tahu bahwa ternyata air terjunnya jauh, jalan yang dilewati berkelok-kelok, dan harus naik-turun tangga pula. Omaigath. Baru separuh jalan, saya sudah mengeluh. Aqua pun menjadi pelepas dahaga yang ampuh. Tapi teman-teman terlihat bersemangat. Nggak capek ya mereka? Atau karena saya jarang olah raga, jadi ketika menempuh perjalanan panjang ini, belum apa-apa saya sudah kehabisan tenaga?

Setelah berjalan kaki cukup jauh, akhirnya kami tiba juga. Air terjunnya? Well, menurut saya oke. Tidak wah, tapi oke. Mungkin karena saya pernah melihat air terjun yang lebih bagus dari ini. Dan fyi, kata teman Ojonk, Tomi namanya, lokasi air terjun Sendang Gile ini dijadikan lokasi syuting video klip penyanyi Indah Dewi Pertiwi untuk lagunya yang berjudul Hipnotis. Kamu pernah lihat video klipnya? Lihat air terjunnya? Nah, keren kan?

Kalau kamu sempat ke Lombok, coba deh main-main ke Sendang Gile. Tapi harus kuat jalan kaki loh ya. Ada untungnya juga saya dipaksa jalan kaki. Karena ini adalah awal dari segalanya. Berkat jalan kaki bersama Halim dan kawan-kawan, saya jadi kuat jalan kaki sekitar empat kilometer sewaktu di Yogyakarta. Tapi itu cerita nanti. Hehe.

Gili Trawangan

Tahun lalu, kami sudah pernah ke Gili Trawangan bersama. Tapi kali berbeda, karena kalau tahun lalu kami hanya berkunjung sebentar, kali ini kami akan menginap semalam di sini. Hal tersebut tak lepas dari hasutan Myutz. Dia ngebet ingin sekali merasakan kehidupan malam di Gili Trawangan, duduk di tepi pantai, memandang bulan, bla bla bla. Dipikir-pikir, boleh juga idenya. Kami pun setuju. Kalau kamu belum pernah mendengar tentang Gili Trawangan, coba deh tanya-tanya sama mbah Google. Lihat foto-fotonya. Maka kamu akan dibuat kagum oleh salah satu objek wisata yang terkenal di Lombok ini. (Mengutip kata-kata Ipoel: “Yaoloh, eksotis bangeeet…!!!”)

Sebetulnya harga penginapan di sini tidak mahal-mahal amat kok. Dan beruntung kami punya Ojonk, dia punya kenalan yang bekerja di pulau ini. Berkat kenalan Ojonk, kami memperoleh penginapan dengan harga yang sangat-sangat murah… (“APA? MURAH?” seru Myutz yang sangat ilfil mendengar kata-kata yang berhubungan dengan gaya hidup orang susah: MURAH, DISKON, TERJANGKAU, GRATIS). Tapi teteup, kenyataannya kami semua, termasuk Myutz, hepi banget mendapat penginapan murah. Ngomong-ngomong, harganya Rp. 70.000 perkamar semalam. MURAH KAN? *menghindari tatapan tajam Myutz*

Suasana malam di Gili Trawangan benar-benar eksotis. Rasanya… er… beda! Malam itu kami seperti bukan berada di Indonesia. Mengapa begitu? Karena di sepanjang jalan yang kami lewati, yang terlihat hanyalah turis-turis asing berlalu-lalang (jalan kaki atau naik sepeda) atau yang nongkrong di bar dan restoran. Penduduk lokal yang kami lihat paling-paling pelayan restoran atau pelayan hotel. Maksud saya (sepenglihatan saya ya), malam itu, turis lokal yang beredar di sekitar pulau hanyalah kami, Para Rombongan Imbisil. Berasa keren deh. Mungkin karena tidak sedang musim liburan ya, jadinya turis lokal yang bermalam di pulau hampir-hampir tidak ada.

“Waaah, rasanya seperti pulang kampung,” ujar Myutz, sok keren (ceritanya ngaku-ngaku bule). Saya mengiyakan, ikut-ikutan sok keren.

Besok paginya… sunrise! Sunrise di Gili Trawangan benar-benar luar biasa. “Biasa aja kaleee,” mungkin begitu pikirmu. Tapi saya sungguh-sungguh. Pemandangan matahari terbit di Gili Trawangan betul-betul luar biasa. No pict = hoax? Coba deh main ke blognya Ojonk. Di situ ada foto-fotonya.

Satu hal yang tidak akan terlupakan, yaitu ketika menyeberang dari dermaga Pamenang menuju Gili Trawangan. Saat menyeberang saya menyaksikan pemandangan aduhai: OJONK KOMAT-KAMIT BERDOA! Astaga, ternyata Ojonk takut banget waktu menyeberang. Padahal kan perahu yang kami tumpangi cukup besar dan kondisi laut saat itu sedang tenang. Tak pelak lagi, Ojonk menjadi bahan tertawaan kami, sobat-sobat yang luar biasa tega.

Gili Trawangan menjadi salah satu tempat wisata favorit saya untuk tour Lombok tahun ini.

Gili Nanggu

Kamu mungkin bertanya-tanya, apa pula Gili Nanggu ini? Gili itu apa? Jadi, Gili itu artinya Pulau. So, Gili Trawangan artinya Pulau Trawangan. Gili Nanggu ya artinya Pulau Nanggu.

Oke. Gili Nanggu tidak kalah indah dibanding Gili Trawangan. Malah lebih indah. Pasirnya lebih putih. Dan, kita bisa snorkeling di sana. Memang terumbu karangnya kalah dibanding Bunaken, dan tapi ikannya warna-warni dan lucu-lucu. Pernah ngasih makan ikan di laut? Mereka doyan roti tawar loh. Mereka tidak takut mengerumuni saya yang memegang roti buat mereka. Agak geli juga waktu jari saya kena gigit ikan-ikan kecil itu.

Saya dan teman-teman segera berfoto-foto ria dengan gaya super menjijikkan (telanjang dada, pose nista, dan sebagainya). Pulau indah itu pun dinodai oleh anak-anak manusia yang hina-dina-mariana. Mau liat fotonya? Seperti biasa. Main-mainlah ke… BOOOLA HAAATI… (pakai gaya bicara Myutz).

Kuta

Atau dibaca Kute. Tidak hanya di Bali loh, di Lombok juga ada pantai Kuta. Menurut saya (dan didukung oleh lebih dari separuh penduduk Lombok) bahwa Kuta Lombok lebih bagus dari Kuta Bali. Pasir putihnya, pantai birunya, sungguh pemandangan yang bisa membuat siapa pun berdecak kagum atas karya ciptaan Tuhan ini. Di pantai Kuta, terpaksa kami belanja-belanja. Beberapa penduduk lokal yang menjajakan dagangannya (dengan gaya memelas) berupa kain dan sarung khas Lombok, kaos-kaos, aksesoris, dan sebagainya. Saya, yang paling tidak tegaan, akhirnya ikut membeli kain Lombok. Myutz selaku orang paling kaya di antara grup kami, belanja paling banyak. Wew.

Theme Song

Oh ya, theme song kami selama di Lombok adalah lagunya SM*SH yang judulnya Yu No Mi So Wel. Bukan ding. I Heart You! Jadi, ceritanya, waktu di mobil (saat akan kemana saya lupa), saya memutar lagu-lagu di hape. Saat lagunya SM*SH berkumandang (apasih), langsung terdengar komentar-komentar negatif anti SM*SH. Hampir semua penghuni mobil carteran saat itu langsung menghujat SM*SH dan bilang bahwa lagu mereka nggak mutu. Tapi tahu nggak, pada bagian lagunya yang berkata “You know me so well…” dengan semangat membara kami ikut menyanyikan bagian tersebut. Jiah, katanya nggak suka SM*SH, tapi ternyata hafal mati liriknya yang so well so well itu. Hehe. Btw, tidak semua kok di antara kami yang benci SM*SH. Halim adalah pendukung SM*SH, tapi dia memilih untuk tidak banyak komentar. Nice attitude, Lim.

Cenat-Cenut

Bagian dari tour Lombok yang agak sedikit membuat cenat-cenut (yaaah, lagi-lagi SM*SH) adalah ketika Halim dengan kejamnya memutuskan bahwa rencana ke Gili Nanggu dibatalkan! Kenapa oh kenapa? Beuh, ternyata Halim trauma dengan perisitiwa penyeberangan yang kurang begitu mulus saat kembali dari Gili Trawangan menuju dermaga Pamenang. Hal ini sempat meresahkan anggota tour, termasuk saya dan Myutz. Saya tidak henti-hentinya meyakinkan Halim bahwa penyeberangan ke Gili Nanggu lebih aman karena waktunya singkat, kondisi laut sedang tenang, bla bla bla. Sementara Myutz, mendongkol gara-gara sudah menghabiskan separuh hartanya, menggadaikan mobil, perhiasan, bahkan tubuhnya, demi untuk menikmati indahnya Gili Nanggu (lebay deh) tapi dibatalkan secara sepihak oleh Halim! Untung saja, setelah jeda sehari, Halim mulai bisa melupakan traumanya. Dan… seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kami pun mengheboh di Gili Nanggu. ASOY!

Mutiara

Ada kejadian lucu bersama Ipoel ketika berkunjung ke toko mutiara di daerah Sekarbela (fyi, Lombok juga terkenal dengan mutiaranya). Well, kita ke sana bukan hanya untuk melihat-lihat saja loh (seperti kebanyakan orang) tapi Kris memang ingin membelikan mutiara untuk ibunya (oh, anak baik si Kris itu). Lanjut. Saat sedang mengagumi perhiasan-perhiasan mutiara, Ipoel, yang sedang berdiri di sebelah saya, terpesona dengan salah satu kalung mutiara. Dengan polosnya dia bertanya kepada ibu pemilik toko.

“Bu, kalung ini berapa harganya?”

“Oh itu. Harganya dua puluh juta…,” jawab si ibu dengan kalem.

Mata saya langsung melebar. Dua puluh juta? Saya syok. Saya kaget mendengar harganya. Tapi lebih kaget lagi melihat reaksi Ipoel yang entah lebay atau beneran, yang jelas dia juga terkejut dan memasang tampang seperti baru saja kena serangan jantung.

“HAH? DUA PULUH JUTA???” kata Ipoel dramatis sambil mengalihkan pandangan ke arah saya. Bola matanya sebentar lagi bakal copot, soalnya melototnya parah banget. “Bayangin Pan, misalnya aku pake kalung itu… trus dirampas orang… kalungnya direnggut, oooh… KEBAYANG NGGAK SIH? Dua puluh jutaku... DUA PULUH JUTAKUUUU!!!!!” Ipoel mengulang-ulang kalimat terakhirnya sambil memegang lehernya dengan ekspresi merana, benar-benar seperti orang yang baru kehilangan kalung mutiara seharga dua puluh juta. Sangat natural. Parahnya, kejadian ini berlangsung di depan si ibu pemilik toko.

Saya hanya bisa ngakak.

Si ibu melempar pandangan aneh. Mungkin dalam hatinya berkata, “Kalo nggak punya duit nggak usah tanya-tanya kali, Mas.” Untung saja Kris dan beberapa teman membeli mutiara di sana. Jadi yah, saya tidak malu-malu amat melihat reaski si ibu. Si Kris membeli beberapa mutiara yang nantinya akan dijadikan gelang, buat Ibunya. Myutz membeli tasbih. Saya? Nggak beli apa-apa. Hihihi.

***

Dan masih banyak lagi tempat yang kami kunjungi di Lombok. Berkunjung ke Pantai Mawun dan Pantai Seger, belanja baju khas Lombok di Fortuna Abadi, belaja cemilan khas Lombok di Phoenix, hingga menikmati sajian Ayam Taliwang di Lesehan Taliwang Irama.

***

Setelah tiga hari menjelajahi tempat-tempat wisata di Lombok, terpaksa kami harus mengakhiri liburan kami di pulau eksotis ini. Sesuai jadwal, tujuan kami selanjutnya adalah Bali. Saya mengucapkan beribu terima kasih kepada Ojonk, Ibunda Ojonk, dan seluruh anggota keluarganya yang telah menerima kami dengan tangan terbuka. Kehangatan yang saya rasakan di rumah Ojonk membuat saya betah. Sama seperti Halim, saya adalah tipe orang yang sebetulnya kurang begitu betah menginap di rumah orang lain. Tapi di rumah Ojonk, saya merasa seperti bagian dari keluarganya. Ibunda Ojonk sangat perhatian kepada kami. Mohon maaf ya, Jonk, kalau ada perkataan atau kelakuan kami, terutama saya, yang kurang berkenan. Dan mohon maaf juga, hingga dua bulan sudah lewat, tapi saya belum berkunjung lagi ke rumahmu. Saya berharap semoga dirimu dan keluargamu diberikan kebahagiaan dan berkah melimpah. Amiiin.

***

Bali, we are coming!

(bersambung…)


@vaan, 2011

Rabu, 15 Juni 2011

Dua Bulan Yang Lalu (bagian 1): Mereka Datang!

Dua bulan sudah lewat sejak entri terakhir saya di blog ini.

Dua bulan sudah lewat sejak pertemuan dengan sobat-sobat tercinta (ew, jijik banget nggak sih kata-kata gue?). Bersama kami jalani tour yang tak akan terlupakan (Lombok, Bali, Yogyakarta), yang begitu membekas di hati saya. Dua bulan sudah lewat, tapi rasanya seperti baru kemarin…

Dua bulan yang lalu.

Tanggal 15 April 2011. Saya sedang menanti kedatangan The Rombongan Sarap di kamar kos tercinta. Malam itu awan hitam menaungi kota Mataram, mencurahkan hujan sejak tadi siang, membasahi jalan-jalan, pepohonan, rumah-rumah, dan setiap jengkal tanah di kota seribu masjid ini. Atap kos-kosan tempat saya bernaung pun tak luput dari hantaman air hujan. Begitu derasnya, sehingga tedengar seperti tumpahan beribu kerikil. Saya agak mencemaskan penerbangan mereka ke kota ini. Perasaan saya campur aduk antara cemas dan gembira. Cemas, karena cuaca yang kurang baik ini. Gembira, karena sebentar lagi saya akan bertemu dengan mereka.

Sungguh melegakan ketika Halim, bendahara tour kami, memberi tahu saya lewat hape bahwa ia dan rombongan sudah tiba di bandara Selaparang, Mataram, dan akan segera menjemput saya di kos. Saking semangatnya, saya berbicara di hape sambil mondar-mandir dalam kamar seperti setrika. Ingin sekali melompat girang layaknya bocah kecil.

Namun rasa gembira berubah menjadi horor ketika Halim berkata bahwa mereka akan melakukan inspeksi kamar kos! “Woi, Tambs, kami sebentar lagi sampai. Kamarmu akan dinilai. Tadi kamarnya Ojonk sudah waktu di Makassar, sekarang giliranmu! Siap-siap!” Nada suara Halim cukup nenakutkan buat saya. Oh my God! Bagaimana saya tidak khawatir? Kamar saya berantakan! Tak ada waktu lagi untuk beres-beres. Saya sudah membayangkan celaan yang bakal keluar dari mulut-mulut silet mereka. Saya pasrah saja. Whatever will be, will be lah…

Benar saja. Tak lama kemudian mobil carteran mereka sudah tiba di depan pintu gerbang kosan (pak supir ternyata masih ingat saya, salah satu anggota tour paling imbisil tahun lalu!). Ya, ini memang tour kedua kami. Tahun lalu, kami tour di dua daerah saja; Lombok dan Bali. Meski saya nota bene berdomisili di pulau Lombok nan indah ini, dan bisa dibilang mulai bosan dengan pemandangan elok yang disajikan Sang Pulau, rasanya akan berbeda jika menikmatinya bersama orang-orang terkasih. Percayalah.

Saya menunggu mereka di bawah siraman hujan, hanya mengenakan jaket, tanpa payung (orang susah, beli payung saja tak sanggup. Hiks!). Anak-anak langsung berhamburan turun dari mobil dengan hebohnya. Saya pun menyambut mereka tak kalah heboh. Di bawah siraman hujan, kami seperti berada di salah satu adegan film Laskar Pelangi. Oh iya, di antara kawan-kawan saya, ada Ipoel, dari dirjen pajak, yang akan ikut tour selama di Lombok saja.

Mereka langsung menodong saya, “Ayo, antar kami ke kamarmu!”

Glek!

Saya membawa mereka ke kompleks kosan (rasanya seperti menuju tiang gantungan), langsung ke kamar nomor 7 yang terletak paling pojok. Wew, dari letak kamar yang “terhuk” itu saja sudah mendapat celaan dari Myutz dan Ojonk. Menyebalkan! Dan begitu masuk ke kamar, Fathir (the Luwuknese) langsung mengeluarkan handycam dan merekam kondisi kamar saya—yang boleh dibilang mirip kapal titanic pasca karam.

Thank God ternyata penilaian mereka terhadap kamar kosan saya sedikit lebih baik dari kamar Ojonk di Makassar yang sudah mereka inspeksi sebelumnya. Lega! Saling cela pun tak bisa dielakkan. Ojonk tentu saja tidak terima kamarnya yang ber-AC (angin cepoi-cepoi) itu kalah dari kamar saya. Hehehe.

Segera sesudah itu, saya dan The Rombongan Sarap berpamitan dengan Tuan Muda. Saya menjinjing dua tas saya yang berisi baju-baju untuk keperluan tour selama sepuluh hari, mengangkutnya ke mobil, dan duduk berdesak-desakan di dalam mobil yang penuh dengan tas dan manusia. Mobil carteran pun segera meluncur ke Praya, kampung (baca keras-keras ya: KAMPUNG) halaman Ojonk, tempat kami akan menginap selama di Lombok.

Mobil menembus tirai hujan, dan kami tak henti-hentinya mengobrol, bercanda, tertawa. Ipoel, yang tadinya lebih banyak diam, akhirnya tak sanggup menahan diri dan ikut tertawa bersama kami. Langit malam yang pekat dan dinginnya udara tak mampu meredupkan kehangatan yang tercipta di antara kami, membuat saya lupa diri. Saya lupa bahwa cuaca yang kurang bersahabat ini mungkin akan mengganggu rencana liburan kami selama di Lombok. Saya lupa bahwa bisa jadi pak supir mulai jengkel dengan kegaduhan yang kami buat sepanjang jalan. Yang saya ingat, bahwa saya sedang berada bersama orang-orang yang saya sayangi. Besok bakalan hujan atau tidak adalah urusan nanti.

Di suatu tempat di Praya, Ibunda Ojonk sudah menanti kami.

Dan liburan pun dimulai…

***

(bersambung…)


@vaan, 2011

Oya, ini foto makan malam pertama di rumah Ojonk. Itu punggung saya, by the way. :)

Jumat, 15 April 2011

Hari H

Akhir-akhir ini status di facebook saya selalu ada huruf 'H'nya. H-6, H-5, hingga H-1. Hari ini, adalah hari H. Bukaaan, saya bukan mau mudik. Saya mengitung hari untuk kembali bertemu dengan teman-teman seperjuangan saya. Teman-teman yang meski jarang bertemu, meski sudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air, tapi tetap akrab, karena selalu menjaga tali silaturahmi lewat... *jeng-jeng-jeng* Facebook (ya iyalaaah, hare gene gak ponya pesbok??? *bibir dimonyongin*). Hehe.

Malam ini kami akan bertemu lagi setelah pertemuan kami setahun yang lalu. Dan sama seperti tahun kemarin, kami berkumpul untuk liburan bersama di Lombok dan Bali, mumpung masih pada bujang gitu loh. Sayangnya dua orang teman kami nggak ikut tahun ini. Sedih sih, tapi mau gimana lagi. *sigh*

Oya, untuk tahun ini, ketambahan satu daerah lagi yang akan dikunjungi, yaitu Jogjakarta. Berhubung saya belum pernah ke pulau Jawa (oke, pernah ke Jakarta sekali), saya luar biasa bersemangat! Walau sebenarnya mau kemanapun, rasa gembira saya nggak akan berkurang. Mengapa? Kerena saya bersama mereka, orang-orang sarap lahir batin, yang bisa diajak gila-gilaan bareng, yang bercandanya suka keterlaluan, tempat saya bisa ngambek sesuka hati, karena saya tahu, mereka nggak akan peduli saya ngambek. T__T

Seperti yang saya bilang sebelumnya, kami sudah tersebar-sebar di berbagai daerah, mulai dari Jayapura, Kotamobagu, Ternate, Makassar, hingga Luwuk (wew, dimana tuh ya?), sehingga harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berkumpul bersama. Bahkan sampai memohon-mohon kepada atasan agar dikasih cuti (lebay). Rencananya kita akan menginap di rumah teman kami di daerah Praya, Lombok Tengah. Maybe tonight’s gonna be a girls—ups, salah—boys night! Hehe. Paling juga ngobrol-ngobrol, becanda-becanda, ato nggak ya tonjok-tonjokan. :D

Nggak sabar rasanya menanti kedatangan mereka. Kebetulan saya memang sedang tinggal di Mataram, jadilah saya yang menunggu kedatangan mereka. Well, jika menunggu, menurut banyak orang, adalah kegiatan yang membosankan, maka menunggu mereka justru sebaliknya. Like I said on facebook, “I’m sooo excited!”


@vaan, April, 2011

(Hadeeh, gak sabar! Semoga segalanya berjalan lancar)

Sabtu, 09 April 2011

Kesepian itu bernama LOST

Kesepian, adalah saat kau menunggu, di suatu tempat, sendirian. Kesepian, adalah saat kau melihat teman-temanmu menikmati malam minggu dengan pacar mereka masing-masing, sementara kau sendiri di kamar, nggak ada yang mengajakmu keluar, dan nggak ada yang bisa kau ajak keluar (uhukcurcoluhuk). Kesepian, adalah saat kau terkena flu dan teman-temanmu nggak. Atau saat kau berada sendiri di rumah, mati lampu.
Buat saya, kesepian adalah ketika saya sedang menggilai serial tv berjudul LOST, dan nggak ada seorangpun yang bisa saya ajak diskusi… *krikk.. krikk..*
Nggak penting banget ya? Hehe.


Saya memang sedang tergila-gila sama LOST. Duluuu banget, waktu saya SMA, pernah nonton itu di Indosiar, tapi cuma season 1 saja, itu pun nggak komplit karena entah saya yang lupa atau Indosiar memang senang mengubah-ubah jam tayangnya. Yang jelas, saya sangat menyukai ceritanya. Unik. In case you don’t know, Lost berkisah tentang sekumpulan orang yang selamat dari kecelakaan pesawat dan terjebak di sebuat pulau. Fakta bahwa ternyata pulau ini terisolir, membuat para survivor nggak bisa berharap banyak pada tim penyelamat. Mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, karena pulau itu memiliki misterinya sendiri. Banyak hal yang nggak bisa dijelaskan dengan akal sehat terjadi di pulau ini, contohnya adalah ketika beberapa tokohnya nyaris di serang oleh beruang kutub. Iya, polar bear, yang seharusnya nggak ada di pulau tropis ini (tau sendiri dong polar bear harusnya ada dimana?). Dan masih banyak misteri lainnya. Belum lagi konflik yang muncul di antara para survivor.


Uniknya dimana? Tentu saja di penyajian cerita (storytelling). Karena selain misteri dan konflik yang dimunculkan, penonton juga diajak untuk lebih mengenal masing-masing survivor melalui adegan-adegan flashback. Tentang masa lalu mereka, rahasia yang mereka simpan, konflik batin mereka, hingga peristiwa yang berujung pada keputusan mereka untuk menumpangi Oceanic Flight 815, penerbangan yang membuat mereka berakhir di pulau itu. Saya cukup menyukai adegan-adegan flashback, meski belakangan suka menggerutu karena merasa terganggu, terutama karena rasa penasaran terhadap misteri pulau itu sendiri.


Jalan cerita yang menarik serta karakter-karakter yang lovable (well, nggak semuanya sih), membuat saya terpikat dengan serial ini, membuat saya ingin mendiskusikannya, dengan siapa saja! MASALAHNYA, serial ini bisa dibilang serial lama (tayang perdana di Amrik tahun 2004, di Indosiar tahun 2005), bahkan sudah tamat di season ke-6, tahun lalu. Bisa dibilang nggak ada lagi yang membahas serial ini. Teman-teman yang saya coba ajak diskusi, beberapa bilangnya nggak pernah nonton. Beberapa malah ada yang nggak suka (how come? Bagus begini masa nggak suka?). Forum-forum internet pun sebagian besar sudah menutup trit-trit (thread maksudnya) yang membahas Lost. Saat mencoba membaca salah satu trit Lost, yang ada saya malah dihajar spoiler habis-habisan. DOH!


Begitulah… Saat ini, meski sudah punya serial Lost komplit 6 season hasil donlot dari internet, saya harus puas menikmatinya sendirian, tanpa seseorang yang bisa saya ajak sharing. Tertawa sendiri saat menyaksikan tingkah konyol para karakter, menangis saat adegan sedih, syok saat tau masa lalu kelam salah satu karakter, rasa penasaran pada misteri di pulau itu sendiri. Semua saya nikmati sendiri.


Tapi saya puas. Setidaknya, saya bisa menonton serial favorit yang dulu nggak sempat saya tonton.


Eaaah... mellow gara-gara serial tv.


-11-

Kamis, 31 Maret 2011

D'Janji or D'Sumpah. Whatever.

Hai.

Tak terasa bulan Maret sudah mau berakhir. Dan dengan bejatnya blog ini saya telantarkan. Sibuk. (Lame excuse ya. Hahaha)

Saya cerita-cerita tentang pengambilan janji pns yang barusan saya ikuti aja ya. Tanggal 24 kemarin acaranya. Umumnya disebut sumpah pegawai negeri sipil (pns). Tapi, untuk pegawai yang beragama Kristen (iya, saya) kata sumpah diganti dengan janji, karena menurut ajaran Kristen, umatnya nggak boleh bersumpah. Er… saya nggak tahu persis bagian mana di Alkitab yang menyebut itu. Tapi bukan itu persoalannya, at least for me yah. Toh saya berjanji demi Tuhan juga, dan itu mengandung tanggung jawab yang besar (haish, bahasa gue).

Saya akui, ada sedikit perubahan dalam diri saya (sedikit doang? *plak!*), setelah pengambilan janji pns kemarin itu. Saya rasa beban di pundak saya sebagai pns makin bertambah. Gimana nggak? Secara ya, kita diambil janji berdasarkan agama dan keyakinan kita, didampingi oleh pemuka agama masing-masing (kemarin itu ada yang beragama Islam, Kristen, dan Hindu. Otomatis ada tiga pemuka agama), disaksikan oleh para pejabat, dan yang lebih penting, disaksikan Yang Maka Kuasa *gemetaran*. Momen saat diambil sumpah/janji itu terasa sangat... apa ya? Berkesanlah. Selama prosesi berlangsung, benak saja bertanya-tanya, “Hellow Gayus? Apa kabar para koruptor?” Apa mereka nggak mengganggap pengambilan sumpah (jabatan) yang mereka jalani itu sebagai sesuatu yang penting? Sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan ‘di atas sana’ nanti? (Halah!)

Saya bukannya sok suci atau gimana. Saya ini orang berdosa juga, you know lah(dan masih suka bikin dosa, hehe). Masalahnya, kalau yang saya rugikan adalah diri saya sendiri, suka-suka saya kan? Beda halnya jika dengan jabatan yang saya duduki, saya memanfaatkannya untuk keuntungan saya dan merugikan orang lain, bahkan LEBIH BANYAK orang.

Ah, akhirnya saya justru meracau. Ini gara-gara satu hal. Demotivasi kerja. Yap, saya tengah mengalaminya, tepat di saat saya menerima surat tugas yang mengharuskan para pegawai yang belum diambil sumpah untuk segera mengambil bagian dalam kegiatan pegambilan sumpah di kantor vertikal kami itu. Thank God, hingga saat ini, saya masih bisa menjaga semangat kerja saya.

Kembali ke acara pengambilan sumpah. Saat itu saya tegang sekali. Jantung saya berdetak tiga kali lebih cepat (atau seperti itulah, kau tahu, saat kau nervous). Saking nervous-nya, saya agak kesulitan mengikuti kata-kata sumpah/janji yang dibacakan oleh Ibu Pimpinan. Ugh, saya merasa mata-mata sadis para saksi menghujam dada saya. Bener-bener horor.

Tapi setelah prosesi berakhir, segalanya kembali seperti biasa. Saya kembali rileks. Dan ngomong-ngomong, harusnya setelah itu ada acara makan-makan (yuhuu!). Tapi sayang (T.T), saya harus segera bertugas. Maklum, penjaga loket. Eh, tapi nggak apa-apa ding. Toh saya lagi diet ini. Biarlah, anggap saja saya terselamatkan dari godaan makan-sampe-lupa-daratan.

Iya, saya lagi diet. Sudah turun sekilo. Dan target saya masih 5 kilo lagi. Kalo bisa sih lebih.


-11-