Selasa, 01 Mei 2012

"Welcome, May"


Selamat tinggal, April. Selamat datang, Mei. ^^

Bulan April cukup menyenangkan. Salah satu penyebabnya adalah karena saya membaca buku yang begitu membekas di benak saya ketika kecil. Baca review bukunya di sini.

Ah, nggak terasa sebulan sudah berlalu. Dan kini kita sudah memasuki bulan ke-5 di tahun 2012 ini. Semakin dekat menuju kiamat, ya? *PLAK!* Abaikan. Abaikan.

Di bulan ini saya berencana membuat blog baru yang khusus membahas buku. Akhir-akhir ini gairah membaca saya memang semakin meningkat. Saya betul-betul bertekad menyesaikan membaca semua buku yang (sudah lama dibeli tapi) belum dibaca.

Bulan ini saya akan ada ujian UT. Agh. Memikirkan itu langsung membuat mood saya jadi jelek. Melihat buku pelajaran yang tebal memang nggak semenyenangkan ketika melihat novel-novel, setebal apapun novel itu.

Mei ini saya menargetkan membaca minimal 5 buku (no, nggak termasuk buku pelajaran!). Bulan kemarin sukses membaca 4 buku, dan menurut saya itu sudah lumayan. Buku-buku tersebut adalah:

1. Si Cacing dan Kotorang Kesayangannya #1
2. Cewek Paling Badung di Sekolah (Si Badung #1)
3. The Hunger Games (The Hunger Games #1)
4. Dimsum Terakhir

Oh, dan satu komik: Detektif Conan Seri Animasi TV #11 (sengaja dimasukin biar nambah jumlah bacaan. Wakakaka.)

Segitu aja dulu.

Selamat Hari Buruh.

Dan selamat hari gajian. :P


-11-

Senin, 30 April 2012

Dua Buku di Akhir April

Hari terakhir di bulan April. Dan saya betul-betul miskin! Bahkan permintaan transfer dari Ibu pun tak bisa saya sanggupi, harus menunggu sampai gajian besok. Sedihnya... :(
*anak durhaka*
*jedutin kepala di tembok*
*kutuk diri sendiri jadi ganteng*
*eh*

Abaikan racauan di atas. Seminggu nggak update nih. Bahas apa ya bagusnya? Gimana kalo buku? (Jiaaaah... buku lagi?) Ya mau gimana lagi. Soalnya bukulah hal menarik dalam hidup saya yang membosankan ini... *uhuk* *muntah darah*

Seminggu kemarin saya menyelesaikan membaca dua buku.

Buku pertama, The Hunger Games oleh Suzanne Collins. Harus saya akui buku ini memang sangat-sangat keren! Sudah lama Nath berusaha 'meracuni' saya agar membaca buku ini. Saya bilangnya nanti-nanti terus, sampai akhirnya film The Hunger Game dirilis. Yeah, seperti biasa, saya cuma bisa penasaran sama filmnya karena di sini nggak ada bioskop. Tapi saya menonton trailernya di youtube. Saya langsung dibuat merinding pada adegan Katniss mengajukan diri 'as a tribute' menggantikan adiknya untuk berlaga di The Hunger Games. Saya pun tergerak untuk membaca novelnya. Thanks banget buat Nath atas usahanya mengenalkan The Hunger Games kepada saya. Really love it! *hugs, hugs* Berikut trailer film The Hunger Games yang membuat saya merinding itu.


 
Buku kedua adalah novel metropop berjudul Dimsum Terakhir karya Clara Ng. Setelah kecewa dengan The (Un)Reality Show, saya berjanji bahwa itulah novel pertama dan terakhir Clara Ng yang saya baca, selanjutnya saya nggak akan membaca bukunya yang lain. Tapi kemudian saya merasa bahwa pemikiran tersebut sangat nggak adil. Karenanya saya mencari novel Clara lainnya, salah satu yang berbaik menurut rekomendasi beberapa teman, yaitu Dimsum Terakhir. Setelah selesai membaca, saya setuju bahwa novel ini memang jauh lebih bagus dari The (Un)Reality Show. Dimsum Terakhir menambah wawasan saya tentang kehidupan warga keturunan Cina di Indonesia. Ceritanya ringan, namun sangat informatif. Novel ini sukses membuat saya membuang jauh-jauh pikiran picik saya tentang Clara Ng. Next time pastinya saya akan membaca karya Clara Ng yang lain. :)

Review The Hunger Games dan Dimsum Terakhir menyusul nanti yah.

Ngomong-ngomong, belakangan ini posting saya terlalu banyak membahas buku. Sempat terpikir untuk membuat blog baru yang khusus membahas buku, terutama buku-buku yang sudah saya baca, baik buku lama maupun buku baru. Sepertinya lebih asik begitu.


-11-

Senin, 23 April 2012

Selamat Hari Buku Sedunia [2012] ^^

Ternyata hari ini adalah World Book Day. Nggak bakalan ingat kalau nggak dikasih tahu salah seorang teman lewat WhatsApp. Ck, pembaca buku macam apa saya ini?

Happy World Book Day, guys! ^^ Mengutip kalimat Si Kacang di facebook saya, "Semoga ke depannya lebih dan lebih banyak lagi buku yang sempat kita baca." (Amiiin...)

Memang betul sih. Begitu banyak yang mesti kita lakuin; belajar, bikin tugas, bekerja, sesekali hang out, membuat waktu membaca kita makin berkurang. So many books, so little time, huh? Di tempat saya ada begitu banyak buku yang tertumpuk rapi di pojokan, beberapa di antaranya bahkan masih disegel plastik, belum terbaca saking terbatasnya waktu. Sepertinya (dan memang kenyataannya begitu) saya lebih banyak membeli buku baru ketimbang menyelesaikan buku bacaan saya. Baru-baru ini saja saya sudah kalap membawa pulang beberapa buku gara-gara toko buku langganan saya, Bookland, menggelar diskon yang lumayan bikin ngiler. Novel-novel dihargai 25-30ribu rupiah. Kebanyakan novel-novel terbitan Bentang Pustaka. Bayangkan, novel yang harga aslinya sekitar 50-70ribu, dipangkas lebih dari setengah harga, siapa nggak kalap coba?


Begitulah. Akhirnya kamar kost saya yang luasnya tak seberapa itu kini dipenuhi buku-buku. Saking menumpuknya, saya sampai ngeri membayangkan bagaimana jika nanti saya dimutasi ke daerah lain. Gawd, mengepak buku dan mengirimnya bukan perkara mudah kan? Er... mungkin mudah, tapi ongkos kirimnya MAHAL. Buku kan berat. Ya, tergantung juga di mana nanti saya dimutasi sih. Agh! Ngomongin mutasi memang bikin galau. Mungkin saat mutasi nanti, buku-buku yang sudah saya baca akan saya hibahkan saja buat teman-teman di Mataram yang memang gemar membaca. Hitung-hitung mengurangi beban saat pindah nanti. (Anjir, pede banget gue, kayak yakin bakal kena mutasi aja. Cuih!)



Gosip yang beredar, bulan depan bakalan ada SK mutasi. Antara berharap dan tak berharap juga sih. Maksud saya, saya sedang dalam keadaan tak ingin direpotkan oleh urusan pindahan. Tapi kalau memang saya terangkut SK mutasi, toh saya tak bisa menolak. Dan mau tak mau, saya harus membaca sebanyak-banyaknya buku yang belum terbaca, sebelum akhirnya saya hibahkan kepada mereka yang beruntung (ceileee). Iya dong, saya kan nggak mau rugi. :P

Wew, sudah jam segini. Lanjutin baca The Hunger Games barang beberapa halaman, ah. Nyicil, Darling... Hehe. Duh, di saat-saat seperti ini saya sangat berharap punya kemampuan membaca super-cepat.


-11-

Kartini dan Twit Windy

Selamat Hari Kartini. Well, memang agak telat mengucapkan ini. Sudah tabiat saya sering telat. Bahkan membaca The Hunger Games saja telat. Haha.

Oya, saya tadi sempat mengecek twitter salah satu 'Kartini' favorit saya, Mbak Windy Ariestanty. Twitnya tentang biografi R.A. Kartini bikin saya penasaran. Kapan-kapan pengen nyari bukunya ah. :)


Dan ada satu info menarik dari salah satu twit di atas. Mbak Windy ternyata sedang mengerjakan buku terbarunya! Wah, tak sabar rasanya menunggu bukunya selesai. ^^


-11-

Jumat, 20 April 2012

[Review Buku] Cewek Paling Badung Di Sekolah

Penulis: Enid Blyton
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret 2012
Tebal: 272 halaman

"Tidak," isak Elizabeth. "Tak seorang pun menyukaiku. Semua orang ingin membuatku sedih"

"Bukan begitu. Masalahnya adalah semua orang terlalu menyayangimu," kata Nona Scott. "Kau cantik, periang, kaya raya. Karena itulah semua orang memanjakanmu. Semua menyukai penampilanmu, caramu tersenyum, caramu berpakaian. Semua tak bosan-bosan memujimu, membelamu, menyayangimu. Dan mereka memanjakanmu. Padahal akan lebih baik bila kau diperlakukan seperti anak-anak lainnya saja. Tetapi tak cukup bagi seseorang untuk hanya memiliki wajah cantik dan senyum ceria. Untuk menjadi anak yang baik, kau harus memiliki hati. Hati yang baik."

(hlm. 13)
Cewek Paling Badung di Sekolah merupakan seri pertama dari empat seri utama serial 'Si Badung' karya Enid Blyton. Meski saya tak banyak membaca karya-karya Enid Blyton yang lain (Lima Sekawan, Sapta Siaga, dll), saya termasuk beruntung sempat membaca buku ini waktu kecil.

Buku ini berkisah tentang Elizabeth Allen, 11 tahun, berparas manis, kaya, dan manja. Saking manjanya, ia jadi kurang ajar. Kelakuannya sangat nakal. Selama ini ia menjalani homescholling seperti anak-anak kaya lain di Inggris pada masa itu. Nona Scott, satu-satunya guru privat Elizabeth tak tahan menghadapi kelakuan nakal Elizabeth, memutuskan untuk berhenti. Orang tua Elizabeth akhirnya memutuskan mengirimnya ke sekolah Whyteleafe.

Elizabeth tidak suka keputusan orang tuanya. Ia mati-matian berusaha agar tidak dikirim ke Whyteleafe. Sayang keputusan orang tuanya sudah bulat. Mau tidak mau, Elizabeth tetap harus bersekolah di sana. Namun gadis itu punya rencana sendiri. Ia akan bersikap sangat-sangat nakal dengan harapan agar pihak sekolah mengeluarkannya. Ia kerap melanggar peraturan dan selalu bersikap kasar pada teman-temannya. Oleh karenanya, ia sering mendapat hukuman. Namun ia tidak peduli. Suatu saat ia bertemu dengan Joan, murid yang pendiam, tak punya  teman, dan terlihat sangat tidak bahagia. Elizabeth jatuh kasihan pada anak itu, dan memutuskan untuk menjadi temannya, meski pada awalnya Joan menolak berteman dengan Elizabeth dikarenakan kelakuannya yang kelewat badung.

Pihak sekolah akhirnya memutuskan bahwa jika sampai tengah semester nanti Elizabeth mampu bersikap baik, maka ia boleh memilih untuk pulang ke rumah atau tetap tinggal di sekolah. Elizabeth menyetujui kesepakatan tersebut. Seiring berjalannya waktu, gadis itu mulai menyukai sekolahnya. banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan. Pelajaran-pelajarannya menyenangkan, teman-temannya juga mengasyikkan. Ia termasuk anak yang paling pintar di sekolah itu. Sebenarnya Elizabeth ingin tetap tinggal di sekolah, kalau saja ia tidak terlalu keras kepala mempertahankan pendiriannya. Lagi pula, ia sudah terlanjur mengumumkan pada semua orang di Whyteleafe bahwa ia membenci sekolah itu dan tetap ingin pulang.


Buku ini sangat baik dibaca oleh anak-anak, karena banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya. Saya suka ceritanya. Elizabeth sebenarnya anak yang baik dan berhati lembut. Ia gadis yang penuh percaya diri dan teguh pendiriannya. Sayangnya ia terlalu keras kepala. Sekolah Whytealfe juga sangat menyenangkan. Sekolah ini memiliki guru-guru dan murid-murid yang menarik. Elizabeth belajar banyak hal di sekolah ini, tertutama bagaimana cara bersikap yang lebih baik. Saya betul-betul jatuh cinta pada tokoh Elizabeth dan, tentu saja, sekolah Whyteleafe. Waktu kecil dulu, saya pernah berharap bisa bersekolah di sana… sebelum akhirnya saya diperkenalkan pada Hogwarts oleh J.K. Rowling. :)

5/5 bintang untuk buku yang sangat memikat ini.


-11-

Gambar diambil di sinidi sini, dan di sini.